
April 14, 2010 | Posted by Ecamuti
Seperti yang kita ketahui perubahan adalah hal yang konstan. Ini adalah kecepatan yang membuat perubahan yang efektif menjadi penting dan merencanakan apa yang akan terjadi kemudian adalah imperatif. Lihatlah pada dampak alat jaringan sosial seperti Twitter dan Facebook; siapapun dimanapun bisa mengutarakan opini mereka terhadap siapapun, apapun, kapanpun yang bisa bisa memberikan perubahan dengan cepat. Fenomenal!
Jadi bagaimana mengelola dan mengarahkan perubahan yang efektif dalam bisnis? Pertama pertimbangkan hal berikut ini :
- Seperti apa bentuk pengelolaan perubahan yang efektif yang diambol dalam organisasi Anda? dan
- Pengalaman apa yang diterima dan dihasilkan ?
Pertimbangkan pertanyaan ini secara obyektif yang memberikan peluang yang unik untuk meningkatkan percepatan perubahan ketika menggunakannya dengan tepat untuk organisasi dan orang-orangnya. Tidak ada solusi yang ‘satu ukuran untuk semua’. Perubahan yang baik membutuhkan teknik yang teruji. Teknik ini bukan roket penelitian tapi terkadang kita butuh mengingat hal dasar. 10 tips berikut ini membawa kita ke dasar untuk memperbaiki perspektif, mengurangi kerusakan dan akselerasi langkah untuk pencapaian.
(more…)
Categories: Aplikasi dunia industri, Bisnis |
Tags: industri, management of change, manajemen, perubahan |
3 Comments »

February 16, 2010 | Posted by Ecamuti
Teori manajemen klasik memiliki kaitan yang erat dengan keadaan bidang industri pada akhir abad 18, yaitu pada saat terjadinya revolusi industri di Inggris. Revolusi industri adalah perubahan teknologi, sosioekonomi, dan budaya yang terjadi dengan penggantian ekonomi yang berdasarkan pada pekerja menjadi ekonomi yang didominasi oleh industri dan diproduksi dengan mesin. Revolusi ini dimulai di Inggris saat perkenalan mesin uap dengan batu bara sebagai bahan bakarnya dan memiliki tenaga dari sebuah mesin. Revolusi ini terjadi terutama dalam produksi tekstil, di mana banyak menyerap tenaga kerja, sehingga menghasilkan dampak yang cukup besar bagi para pekerja atau buruh.
(more…)
Categories: Teknik Industri |
Tags: industri, manajemen perilaku, Sejarah teknik industri |
1 Comment »

January 29, 2010 | Posted by Ecamuti
Peta Aliran Proses (Flow Process Chart) adalah suatu diagram yang menunjukkan urutan-urutan dari operasi, pemeriksaan, transportasi, menunggu dan penyimpanan yang terjadi selama satu proses atau prosedur berlangsung, serta di dalamnya memuat pula informasi-informasi yang diperlukan untuk analisis seperti waktu yang dibutuhkan dan jarak perpindahan. Waktu biasanya dinyatakan dalam jam dan jarak perpindahan biasanya dinyatakan dalam meter, walaupun hal ini tidak terlampau mengikat.
Peta Aliran Proses memungkinkan untuk digunakan dalam aktivitas perkantoran, secara terperinci dapat dikatakan bahwa Peta Aliran Proses pada umumnya terbagi dalam 2 tipe, yaitu: (more…)
Categories: Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi, Teknik Industri |
Tags: aliran, industri, peta, produksi, proses |
No Comments »

January 29, 2010 | Posted by Ecamuti
Proses Operasi ini merupakan suatu diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang akan dialami bahan (bahan-bahan) baku mengenai urutan-urutan operasi dan pemeriksaan. Sejak dari awal sampai menjadi produk jadi utuh maupun sebagai komponen, dan juga memuat informasi-informasi yang diperlukan untuk analisis lebih lanjut, seperti: waktu yang dihabiskan, material yang digunakan, dan tempat atau alat atau mesin yang dipakai.
Dengan adanya informasi-informasi yang bisa dicatat melalui Peta Proses Operasi, kita bisa memperoleh banyak manfaat di antaranya: (more…)
Categories: Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi, Teknik Industri |
Tags: industri, operasi, peta, produksi, proses |
No Comments »

January 24, 2010 | Posted by Ecamuti
Product Positioning adalah upaya menciptakan citra atau image produk di mata konsumen. Dapat pula dikatakan bahwa product positioning adalah memosisikan produk kepada konsumen yang tepat agar konsumen mau membeli produk tersebut. Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh Al Ries dan Jack Trout di dalam buku mereka yang terkenal yakni ” Positioning – a battle for your mind”. Mereka menyatakan bahwa nilai (value) setiap brand (produk) didasarkan pada persepsi masyarakat mengenai produk tersebut.
Persepsi masyarakat menentukan siapa saja yang akan membeli suatu brand tertentu. Seperi misalnya Marcedes yang dikenal sebagai mobil mewah dan tentunya berbeda halnya dengan brand Suzuki yang mungkin memiliki level yang berbeda di mata costumer. Perlakuan terhadap brand dari masing-masing class juga berbeda. Sebuah brand yang telah masuk dalam class tertentu seperti kelas mewah misalnya, jika harga produk tersebut diturunkan justru akan menurunkan sales. (more…)
Categories: Aplikasi dunia industri, Teknik Industri |
Tags: desain, industri, inovasi, posisi produk, produk, rancangan |
No Comments »

January 23, 2010 | Posted by Ecamuti
Sebelumnya mungkin kita pernah dengar mengenai banyaknya kecelakaan kerja di Indonesia. Kecelakaan kerja memang dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Segala faktor dapat berpengaruh terhadap terjadinya suatu kecelakaan kerja. Dalam artikel yang saya buat sebelumnya, ada yang disebut dengan 5E dalam merancang suatu sistem yang baik sehingga dapat meminimasi faktor-faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja.
Dalam 5E tersebut, E yang pertama adalah Engineer. Yang dimaksud di sini adalah tahapan perancangan dengan menambahkan unsur faktor keselamatan atau lebih dikenal dengan istilah safety factor. Bagaimana cara membuat suatu desain yang aman? Lantas bagaimana menambahkan faktor keselamatan dalam rancangan yang kita buat? Dalam kesempatan ini akan dibahas mengenai bagaimana menambahkan unsur safety dalam desain.
Tahap pertama yang harus kita ketahui lebih dahulu adalah adanya needs (kebutuhan). Harus ditentukan dulu kebutuhan apa yang memang benar-benar kita perlukan, dan harus jelas untuk apa desain tersebut dibuat. Secara lebih rinci, tahapan-tahapan yang harus dilakukan sesuai urutan adalah sebagai berikut : (more…)
Categories: Aplikasi dunia industri, Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi |
Tags: design, ergonomi, industri, kantor, kerja, keselamatan, safety, safety factor |
1 Comment »

January 21, 2010 | Posted by Ecamuti

Manajemen K3 merupakan hal penting berkaitan dengan melakukan pemeliharaan sistem kerja agar keselamatan, dan kesehatan kerja tetap terjaga. Di Indonesia, faktor keselamatan kerja sangat kurang. Banyak sekali kecelakaan kerja yang terjadi di Indonesia. Seperti yang baru saja terjadi di PT. NTT (Newmont Nusa Tenggara) yang meninggalkan satu korban tewas saat melakukan pekerjaan menambang, dikutip dari Kompas (19/1/10). Bahkan jika dilihat pada tahun 2009 saja pemerintah mencatat data kecelakaan kerja di Indonesia mencapai angka 54.398 kasus (Solopos, 12/1/10) yang memang relatif sangat tinggi (Muhaimin Iskandar, 2010).
Permasalahan K3 memang gampang-gampang sulit. Gampangnya, semua aturan dan rancangan sudah didesain sedemikian rupa untuk meminimasi kecelakaan kerja, bahkan tidak sedikit ahli para pimpinan menggelontorkan banyak biaya untuk permasalahan ini, namun susahnya, kok tetap saja kecelakaan terjadi lagi dan lagi. Kemudian apa yang salah ?
K3 yang disingkat dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (bukan kesehatan dan keselamatan kerja) perlu perancangan yang sangat-sangat baik. Beberapa hal yang perlu direkayasa dalam upaya menciptakan kondisi seminimum mungkin sebagai penyebab kesalahan dan kecelakaan kerja antara lain adalah
- Hardware
- Software
- Peopleware
- Methods
- Enviroware
- Organiware
(more…)
Categories: Aplikasi dunia industri, Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi |
Tags: ergonomi, industri, k3, kecelakaan, kerja, kesehatan, keselamatan, manajemen, safety |
No Comments »

January 19, 2010 | Posted by Ecamuti

Ingin memaksimalkan usaha anda? Atau anda merasa proses produksi anda kurang efisien? Mungkin permasalahan anda tersebut dapat diselesaikan dengan Linear Programming. Pemrograman linear dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan penggunaan resources (sumber daya) sehingga proses yang dilakukan menjadi efisien dan tepat. Dapat pula digunakan untuk menentukan biaya terendah yang harus dikeluarkan dalam mengambil suatu keputusan.
Mungkin contoh sederhana ini dapat membantu untuk mengenal lebih dekat tentang penggunaan linear programming. Misal ada seorang pemilik toko baju dan sarung bingung karena bahan-bahan yang ia pesan dan produksi yang ia lakukan selalu terjadi pemborosan. Bahan-bahan yang ia perlukan untuk membuat baju adalah 2 m2, dengan kebutuhan orang 4 jam kerja. Kemudian untuk membuat sarung bahan yang ia perlukan adalah 5 m2 dengan kebutuhan orang 2 jam kerja. Kedua proses tersebut (baju dan sarung) menggunakan bahan yang sama. Profit yang ia inginkan dari penjualan tersebut adalah Rp 10.000,- untuk setiap penjualan baju dan Rp 15.000,- untuk setiap penjualan sarung. Masalahnya ia hanya memesan barang tiap minggunya sekitar 50 m2 dan jam kerja hanya 36 jam kerja untuk menjahit (sewing). Kemudian ia harus memutuskan berapa baju dan sarung yang harus ia produksi ?
Masalah di atas merupakan masalah yang dapat dipecahkan dengan
linear programming. Agar lebih mudah menjabarkan elemen-elemen
linear programming maka perlu diketahui mana yang termasuk tujuan, pembatas dan variabel yang dicari.
(more…)
Categories: Aplikasi dunia industri, Teknik Industri |
Tags: efektif, efisien, industri, keputusan, linear, manajer, operasional, produktivitas, programming, uang |
No Comments »

January 17, 2010 | Posted by Ecamuti

Apa itu waktu baku? Secara harfiah dapat diartikan sebagai waktu yang dibakukan. Ya tepat sekali, waktu baku adalah waktu yang digunakan sebagai standar berapa lama suatu pekerjaan harus dilakukan. Mengapa harus standar? Karena untuk menghilangkan pemborosan sekaligus meningkatkan produktivitas kerja.
Waktu baku dibentuk tidak secara langsung, artinya tidak diamati langsung melainkan perlu adanya penambahan seperti kelonggaran dan penyesuaian. Mengapa perlu ada penambahan tersebut? Hal itu dilakukan karena tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Misalnya saja satu orang lebih lambat dibanding pekerja yang lainnya atau ada faktor lingkungan seperti suhu dan kelembaban yang berbeda hasilnya jika lingkungan fisiknya dirubah, seperti suhu yang ekstrim, kelembaban yang rendah dsb.
Bagaimana menghitung waktu baku? Anda dapat melakukannya secara mudah dengan melihat tahapan pada gambar di bawah ini:
Categories: Aplikasi dunia industri, Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi |
Tags: baku, efisien, ergonomi, industri, standar, waktu |
No Comments »

January 16, 2010 | Posted by Ecamuti
Apakah anda sering merasa pusing, cepat lelah dan bahkan sering mengalami stress akibat pekerjaan anda? Atau mungkin anda merasa pekerjaan yang anda lakukan terasa sulit? Benar, mungkin saja beban pekerjaan anda terlalu berat. Secara umum, beban kerja dibagi menjadi dua, yakni beban fisik dan beban mental. Beban fisik tentunya berhubungan dengan pekerjaan fisik seperti angkat beban dan aktivitas yang melibatkan fisik secara umum. Namun tidak banyak orang mengenal betul apa itu beban mental.
Beban mental secara sederhana adalah beban yang memerlukan aktivitas mental. Apa saja aktivitas mental itu? Aktivitas mental itu bermacam-macam. Secara umum (Shingledecker, 1984) membagi menjadi beberapa aktivitas penting, antara lain :
- Visual display monitoring
- Memory search
- Linguistic processing
- Mathematical processing
- Spatial processing
- Grammatical reasoning
- Unstable tracking
- Interval production
Hal yang terpenting adalah kita dapat memastikan bagaimana beban mental sebagai tuntutan kerja tidak lebih besar dari kapasitas (kemampuan) kita sebagai pekerja (individu). Bagaimana cara mengukur beban mental tersebut? Cara cepatnya adalah dengan menggunakan NASA TLX.
The National Aeronautical and Space Administration Task Load Index (NASA TLX) digunakan untuk mengukur beban mental secara subjektif berdasarkan pada pembobotan dari rata-rata rating melalui 6 jenis skala atau dimensi yaitu mental demand, physical demand, temporal (time) demand, performance, effort dan frustration (Hart & Staveland, 1988).
Setelah anda menghasilkan skor NASA TLX untuk mengukur beban mental pekerjaan anda, dapat anda bandingkan dengan kriteria di bawah ini untuk melihat apakah beban kerja anda tergolong berat atau ringan.
- Skor di atas 80, menyatakan bahwa beban mental pekerjaan agak berat
- Skor 50-70, menyatakan beban mental pekerjaan sedang (medium)
- Skor di bawah 50, menyatakan bahwa beban mental pekerjaan agak ringan
Cukup mudah bukan. Tentunya pengukuran lebih mendetail dan akurat dapat dilakukan dengan analisis yang lebih lanjut. Sekarang anda tak perlu penasaran dengan beban mental pekerjaan anda. Ukur dan buktikan sendiri seberapa berat pekerjaan anda. Salam sukses.
File NASA TLX dapat anda download di sini
Categories: Aplikasi dunia industri |
Tags: beban mental, capek, ergonomi, industri, lelah, nasa tlx, pekerjaan, stres, stress |
3 Comments »
Komentar Terbaru